Selasa, 10 Januari 2023

Etika Pembelajaran PAI Perspektif Kitab Ta'lim Al-Muta'allim



ETIKA PEMBELAJARAN PAI PERSPEKTIF KITAB

TA’LIM AL-MUTA’ALLIM

Oleh :

MOH. MASBUHIN

Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Lamongan

santriedepresieclub56@gmail.com

 

Abstract

The ethics of Islamic religious learning in the book Ta'lim al-Muta'allim by Burhanuddin al-Zarnuji is the cultivation of adab values ​​in a student. This cultivation is a process of developing the soul based on the concept of faith and religion. The failure of a polite ethic in education that occurred at this time was due to the lack of adab values ​​taught in the educational concept map. Thus, the process of developing ethics faltered or even disappeared altogether. To form ethical and civilized students of knowledge, Islamic Religious Education must direct the target of educational goals to the individual development of a student who understands his position, both his position before God, teachers, society, and himself. The Book of Ta'lim al-Muta'allim formulates several methods that are very important in the development of ethics and adab which include both physical and spiritual ethics, including the ilqa' al-nasihah method (giving advice) and mutual love, the Mudzakarah method, and Munadharah, the method of forming soul. These methods need to be studied and tested for their relevance to the current condition of education. This research is a literature study, as well as evidence that the above methods are still relevant for use in education today.

Key Words : Ethics, Learning, Ta’lim al-muta’allim


Abstrak

Etika pembelajaran agama islam dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim oleh Burhanuddin al- Zarnuji adalah penanaman nilai-nilai adab kepada diri seorang siswa. Penanaman ini merupakan proses pembangunan jiwa yang berdasarkan konsep keimanan dan keagamaan. Gagalnya sebuah etika sopan santun dalam pendidikan yang terjadi pada masa ini disebabkan karena minusnya nilai-nilai adab yang diajarkan dalam peta konsep pendidikan. Sehingga, proses pembangunan etika tersendat bahkan hilang sama sekali. Untuk membentuk penuntut ilmu yang beretika dan beradab, maka Pendidikan Agama Islam harus mengarahkan target tujuan pendidikan pada pembangunan individu seorang siswa yang memahamai akan kedudukannya, baik kedudukan dihadapan Tuhan, guru, masyarakat, dan dirinya sendiri. Kitab Ta’lim al-Muta’allim merumuskan beberapa metode yang sangat penting dalam pembangunan etika dan adab yang mencakup etika dhahir dan batin, meliputi metode ilqa’ al-nasihah (pemberian nasehat) dan saling mengasihi, metode Mudzakarah, dan Munadharah, Metode pembentukan jiwa. Metode-metode tersebut perlu untuk dikaji dan diuji relevansinya dengan kondisi pendidikan saat ini. Penelitian ini bersifat studi kepustakaan, juga sebagai bukti bahwa metode diatas tersebut masih relevan untuk digunakan dalam pendidikan saat ini

Kata Kunci : Etika, Pembelajaran, Ta’lim al-muta’allim


PENDAHULUAN

Etika merupakan konsep penting dalam pembentukan jiwa dan kompetensi peserta didik, khususnya kompetensi di bidang kepribadian, pencapaian, dan kemampuan kognitif dan psikomotorik. Tidak akan memberi manfaat bagi masyarakat, apabila tidak diikuti dengan kompetensi di bidang etika dan kepribadian. Kemampuan lulusan suatu jenjang pendidikan bisa baik, bila lulusan atau proses pendidikannya itu memiliki etika atau akhlak yang baik. Di samping memiliki pengetahuan kognitif dan keterampilan psikomotorik, etika dan kepribadian merupakan kunci pokok ketika sudah berinterakasi secara langsung dengan masyarakat sekitar.

Etika seseorang pada dasarnya terungkap melalui bagaimana ia berbuat dan bertabi’at. Etika atau akhlak yang terkait dengan keyakinan, sikap, aktivitas atau perasaan terhadap sesuatu akan menentukan tindakan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pendidikan akhlak atau konsep etika pembelajaran menempati kedudukan yang sangat penting dalam pembelajaran di sekolah, maupun di perguruan tiinggi.

Standar etika atau akhlak ini diperlukan untuk terciptanya ketenangan dalam proses belajar mengajar yang ditempuh oleh seorang murid. Secara substansial, ketenangan ini mampu membantu dan memudahkan subjek sekaligus objek dalam pendidikan, khususnya murid untuk meningkatkan, dan memperbaiki kualitas pembelajaran mereka demi mencapai tujuanya masing-masing. Ketika etika yang berlaku dilanggar, maka sama artinya membuka peluang untuk gagal.

Al-Attas menegaskan bahwa penanaman adab atau etika merupakan bagian terpenting yang melekat pada konsep pendidikan Islam. Hal ini mengindikasikan bahwa tujuan utama dari pendidikan Islam adalah mencetak manusia yang baik, beradab dan beretika. Karena manusia yang beradab lebih bisa dan berhak berpeluang untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik dan beradab, yakni manusia yang telah maju dalam segi tingkat kehidupannya, baik secara lahir maupun batin (Husaeni 2010).[1]

Seorang murid dikatakan mempunyai etika yang baik apabila didalam dirinya terdapat nilai-nilai yang baik, diantaranya adalah; religius, tanggung jawab, disiplisn, mandiri, jujur, hormat, kasih sayang, peduli, kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, pantang menyerah, kepemimpinan, rendah hati, toleransi, cinta damai, dan persatuan.[2]

Tujuan etika adalah untuk membentuk kepribadian anak, agar supaya menjadi manusia sosial yang baik, masyarakat, serta warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik, secara umum adalah mematuhi nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya.

Sebagai bangsa yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam, tentu akan sangat baik apabila pembelajaran, dan pendidikan etika dan akhlak bagi siswa digali dari etika atau akhlak yang bersumber dari ajaran Islam atau pemikiran-pemikiran para ulama Islam yang terkait dengan etika anak didik, baik terhadap tuhannya, dirinya, orang tuanya, gurunya, dan temantemannya, sesungguhnya dalam tradisi ilmu-ilmu Islam klasik, terdapat sebuah kitab yang patut dikaji dan diteliti.

Kitab yang dimaksud adalah Kitab Ta’lîm al-Muta’allim, yang selama puluhan tahun dijadikan sebagai salah satu kitab yang diajarkan di pondok-pondok pesantren di Indonesia, khususnya pondok pesantren salaf. Kitab ini berisikan tentang bagaimana etika, akhlak dan sikap yang seharusnya dimiliki oleh seorang siswa, pelajar, mahasiswa, atau mereka yang sedang menuntut ilmu. Atas dasar itu, maka masalah utama dalam penelitian ini adalah ingin menjelaskan, dan mengkaji ulang mengenai tentang Etika Pembelajaran PAI Perspektif Kitab Ta’lim Al-Muta’allim.

Dalam penelitian jurnal ini, penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research), yaitu serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan metode pengumpulan data pustaka. Menurut Abdul Rahman Sholeh, penelitian kepustakaan (library research) ialah penelitian yang mengunakan cara untuk mendapatkan data dan informasi dengan menempatkan fasilitas yang ada di perpustakaan seperti buku, majalah, dokumen, dan catatan kisah-kisah sejarah atau penelitian kepustakaan yang murni yang terkait dengan obyek penelitian.[3]

Penelitian ini merupakan studi kasus mengenai teks yang termuat dalam Kitab Ta’lim Al-Muta’allim yang ditulis oleh Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji. Karena yang diteliti adalah teks yang tertulis yang berupa korpus (data yang dipakai sebagai sumber bahan penelitian) maka penelitian ini termasuk dalam kategori pendekatan penelitian kepustakaan (library research). Penelitian kepustakaan (library research), adalah penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan literatur (kepustakaan) baik yang berupa buku, catatan, ataupun laporan hasil penelitian dari penelitian sebelumnya.

Menurut M. Nazir, studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan ulang terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang akan diteliti. Studi kepustakaan merupakan langkah yang sangat penting dimana setelah seorang peneliti menetapkan materi pembahasan, langkah selanjutnya adalah melakukan kajian yang berkaitan dengan teori dan materi pembahasan. Dalam pencarian teori, peneliti akan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari kepustakaan yang berhubungan dengan topik pembahasan. Sumber-sumber kepustakaan dapat diperoleh dari buku, jurnal, majalah, hasil-hasil penelitian (skripsi, tesis dan disertasi), dan sumber-sumber lainnya yang sesuai (internet, koran dll). Bila peneliti telah memperoleh refrensi kepustakaan yang sesuai, maka peneliti akan segera menyusun secara teratur untuk dipergunakan dalam penelitian. Oleh karena itu studi kepustakaan meliputi proses seperti; mengidentifikasikan teori secara sistematis, penemuan pustaka, dan analisis dokumen yang memuat informasi yang berkaitan dengan topik penelitian.[4]

Dari latar belakang di atas, penulis mengfokuskan pembahasan kajian ini hanya dengan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :

1.     Bagaimana etika pembelajaran dalam kitab Ta`lim al Muta`allim?

2.     Bagaimana relevansi etika pembelajaran tersebut dalam dunia pendidikan modern?

 

PEMBAHASAN

PAPARAN UMUM TENTANG ISI KITAB TA’LIM AL-MUTA’ALLIM

Pada hakikatnya dalam khazanah keislaman, kitab Ta’lim al-Muta’allim bukanlah satu-satunya kitab yang membahas tentang adab belajar murid, ada beberapa kitab dari pesantren yang memiliki kecenderungan sama dengan kitab tersebut, bahkan lebih dahulu dituliskan daripada kitab Ta’lim Al- Muta’allim. Misalnya, “Al-Targhib fi al-ilmi” karya Ismail Al-Muzani (wafat 264 H) dan “Bidayah al- Hidayah dan Minhaj al-Muta’allim” karya Al- Ghazali (wafat 505 H). Namun, Ta’lim al- Muta’allim jauh lebih mengakar di kalangan pesantren dibanding kitab-kitab tentang adab yang lain, sekalipun periode penulisannya jauh lebih dahulu dibanding kitab Ta’lim al-Muta’allim. Bandingkan antara Ta’lim yang disusun pada akhir abad ketujuh Hijriyah dengan al-Targhib fi al-Ilmi yang dikarang pada pertengahan abad ketiga.

Kitab Ta’lim al-Muta’allim yang terdiri dari muqaddimah dan 13 fashl tersebut, Imam Az-Zarnuji menuliskan tentang beberapa hal yang kaitannya dengan adab belajar murid terhadap Allah SWT, diri sendiri, orang tua, guru, teman, dan kitab. Selain itu, dalam kitab tersebut Az-Zarnuji juga memaparkan tentang beberapa hal yang harus dilakukan selama menuntut ilmu dan beberapa hal yang harus dijauhi ketika menuntut ilmu. Dalam muqaddimah kitabnya, Syekh Az-Zarnuji memaparkan tentang kondisi generasi murid pada masanya yang mendapatkan tambahan ilmu akan tetapi tidak meraskan buah dan kemanfaatan ilmu, yang kemudian menjadi latar belakang penulisan karyanya tersebut. Setelah itu, kemudian beliau menyusun dengan 13 fashl[5] yang masing-masing dijelaskan secara detail dan diawali dengan pembahasan terkait tentang intisari dari ilmu, dan ilmu fiqh.[6]

 

PERAN GURU MENURUT SYEKH AZ-ZARNUJI

Dalam kitab Ta’lim Muta’allim, Imam Az-Zarnuji menyebutkan bahwa peran guru sebagai berikut :

  1. 1.     Peran sufistik

Guru berperan membersihkan dan mengarahkan hati nurani murid untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari ridha-nya. Dalam arti lain hal ini disebut sebagai dimensi sufistik.[7]

  1. 2.     Peran pragmatic

Guru berperan menanamkan nilai-nilai pengetahuan dan keterampilan kepada muridnya. Selain itu, beliau juga memilihkan ilmu apa yang harus terlebih dahulu dipelajari dan di yang dipelajari nanti, beserta ukuran-ukuran yang harus di tempuh dalam mempelajarinya.[8] Ini juga selaras dengan apa yang sudah diutarakan oleh Ibrahim Anam dalam bukunya yang berjudul “Guru Makhluk Serba Bisa” bahwa disamping guru berperan menata jiwa murid, guru juga berperan menanamkan nilai-nilai pengetahuan dan keterampilan, memilihkan ilmu yang harus didahulukan, dan mana yang harus diakhirkan, serta menata ukuran yang harus ditempuh, dan yang harus dipelajarinya. [9]

Dalam proses pendidikan, guru memiliki peranan yang sangat penting dalam belajarnya  murid agar supaya dapat meraih tujuan dari pendidikan. Tujuan pendidikan adalah membentuk pribadi manusia yang shaleh dan bagus. Untuk mewujudkan tujuan sebagaimana yang disebutkan di atas, maka seorang pendidik hendaknya memahami hakikat sebagai pendidik (guru). Hakikat pendidik dapat difahami dari definisi dari pendidik itu sendiri, yakni pendidik adalah orang yang bertanggung jawab atas perkembangan peserta didiknya dengan upaya mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik potensi kognitif, afektif dan psikomotorik.[10]

 

AKHLAK BELAJAR MENURUT SYEKH AZ-ZARNUJI

Dalam kitabnya Syekh Az-Zarnuji beliau mengatakan bahwa: berapa banyak orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tapi banyak dari mereka yang tidak memperoleh manfaat dari ilmunya. Hal itu terjadi karena cara menuntut ilmu mereka yang salah, dan syarat-syaratnya ditinggalkan. Karena barang siapa yang salah jalan, tentu ia akan tersesat tidak akan sampai pada tujuan.[11] oleh karena itu, Syekh Az-Zarnuji menjelaskan bagaimana cara mencari ilmu, serta didalam kitabnya ada beberapa etika dan akhlak belajar yang harus diterapkan dalam mencari ilmu. Adapun akhlak belajar tersebut yaitu:


A.    Niat Ketika Mencari Ilmu

Setiap pelajar harus memperbaiki niatnya ketika akan belajar karena niat adalah pokok dari segala amal ibadah. Nabi SAW bersabda, “semua amal itu tergantung pada niatnya” hadis sahih. Niat tidak boleh dilakukan semata-mata hanya untuk mencari pengaruh manusia, kenikmatan dunia, atau kehormatan dihadapan orang lain. Seseorang yang sedang mencari ilmu niatnya harus ikhlas semata-mata ingin mencari ridho Allah SWT, mencari kebahagian di akhirat, menghilangkan kebodohan, dan bertujuan untuk melestarikan agama.[12]

Disamping itu juga seorang murid sebaiknya tidak merendahkan (menghinakan) dirinya sendiri dengan mengharapkan sesuatu yang tidak semestinya dan menghindari hal-hal yang dapat menghinakan ilmu dan ahli ilmu.

 

B.    Memilih Ilmu, Guru, Teman dan Tekun dalam Mencari Ilmu

Murid hendaknya memilih ilmu yang terbaik dan ilmu yang dibutuhkan dalam agamanya dan masa depan. Seorang murid perlu mendahulukan ilmu tauhid dan mengenal Allah beserta dalilnya, karena mempercayai secara taqlid (mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya) meskipun sah menurut kita, tetapi tetap berdosa karena tidak berusaha mengkaji dalilnya.[13]

Dalam memilih seorang guru hendaknya kita memilih yang lebih alim, wara’, berumur, santun, dan penyabar.[14] Seorang murid juga harus sabar dan tabah dalam masa belajar kepada guru yang telah dipilihnya serta sabar dalam menghadapi segala cobaan yang dialami ketika menuntut ilmu. Selain itu, murid yang mempelajari suatu bidang ilmu jangan berpindah ke bidang ilmu yang lain sebelum yang pertama benar-benar faham, dan sempurna dipelajari.[15]

 

C.    Menghormati Ilmu Dan Guru

Menghormati guru, dan memuliakan ilmu merupakan suatu keharusan, Para murid tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat mengambil manfaat dari ilmu, kecuali dengan menghormati ilmu, dan guru. Karena ada yang mengatakan bahwa orang-orang yang telah berhasil adalah, mereka yang ketika menuntut ilmu sangat menghormati guru dan ilmu, orang-orang yang tidak berhasil dalam menuntut ilmu karena mereka tidak mau menghormati atau memuliakan ilmu dan gurunya. Peserta didik itu sangat penting memiliki akhlak yang baik terhadap ilmu, dan guru. Az-Zarnuji mengatakan bahwa akhlak peserta didik kepada gurunya yaitu:

  1. Seorang murid tidak diperbolehkan berjalan di depannya, tidak duduk di tempatnya, dan tidak memulai bicara kecuali atas izinnya.
  2. Hendaknya tidak banyak bicara di hadapan guru. Dan tidak bertanya sesuatu bila guru dalam keadaan capek atau bosan. Jika bertamu jangan seskali-kali mengetuk pintunya, tetapi sebaliknya menunggu beliau keluar.
  3. Harus mencari keridhoan hati guru, harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan beliau murka, mematuhi perintahnya asal tidak bertentangan dengan agama, karena tidak boleh taat pada makhluk untuk bermaksiat kepada Allah SWT. Termasuk menghormati guru adalah menghormati putra-putranya, dan orang yang ada hubungan kerabat dengannya.
  4. Tidak boleh menyakiti hati gurunya, karena tidak akan diberi keberkahan ilmu jika seorang murid telah melukai hati seorang guru.[16]

Dan penting juga bagi pelajar adalah memuliakan ilmu, termasuk diantaranya adalah seorang murid hendaknya tidak mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci (wudhu). Demikian pula dalam belajar, hendaknya dalam keadaan suci. Al-Zarnuji menyarankan kepada guru atau murid yang akan memulai belajar hendaknya dengan berwudhu, sebab ilmu adalah cahaya dan wudhu juga cahaya, maka akan semakin bersinarlah cahaya ilmu dengan wudhu.[17]

Murid hendaknya juga memperhatikan keterangan (catatan), yakni selalu menulis dengan rapi dan jelas, agar tidak terjadi penyesalan dikemudian hari. Sementara itu, murid hendaknya dengan penuh rasa hormat selalu memperhatikan secara seksama terhadap ilmu yang disampaikan padanya, sekalipun ia pernah mendengarnya sebanyak seribu kali.[18]

 

D.    Kesungguhan Belajar, Ketekunan dan Cita-cita yang tinggi

Seorang yang mencari ilmu harus memiliki kesungguhan dan ketekunan, jika hanya sebatas doa yang dilakukan tetapi tidak diiringi dengan usaha dan kesungguhan dalam mencari ilmu tersebut, maka ilmu yang dicari tidak akan dapat diperoleh tanpa adanya doa dan usaha. Menurut Syekh Az-Zarnuji seorang peserta didik harus melakukan cara-cara sebagai berikut:

  1. Para murid harus bersungguh-sungguh dalam belajar dan harus tekun.
  2. Murid tidak boleh banyak tidur pada malam hari, ada yang berkata mengurangi tidur malam untuk beribadah itu lebih menggembirakan hati daripada di siang hari.
  3. Murid harus mengulang-ulang pelajarannya pada awal malam dan akhir malam yaitu antara waktu maghrib dan isya’, dan diwaktu setelah sahur. Karena saat-saat waktu tersebut sangat diberkahi.
  4. Para murid harus memanfaatkan masa mudanya untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, tidak boleh terlalu memaksakan diri hingga melebihi kekuatannya karena terlalu lelah, mencari ilmu itu harus sabar dan tekun, pelan-pelan tetapi kontinyu, sabar inilah kunci yang penting dari segala sesuatu.
  5. Harus bercita-cita tinggi, sebab orang bisa tinggi derajatnya karena memang mempunyai cita-cita yang tinggi. Cita-cita itu ibarat burung yang dipergunakan untuk terbang setinggi-tingginya.[19] 

E.    Sikap Wara’ dalam Menuntut Ilmu

Orang yang bersifat wara’ ilmunya lebih bermanfaat, belajarnya lebih mudah, termasuk sifat wara’ diantaranya adalah :

  1. Menghindari rasa kenyang, tidak banyak tidur, tidak banyak bicara yang tidak ada gunanya, menghindari makanan pasar. Karena makanan pasar itu lebih dekat kepada najis dan kotor, bisa menjauhkan dari dzikir kepada Allah SWT dan lebih dekat kepada kelalaian, sebab mata orang fakir memperhatikan makanan itu tetapi mereka tidak punya uang, dan tidak mampu untuk membelinya. Mereka menahan rasa sedih karena tak terpenuhi keinginannya. Oleh karena itu, makanan pasar hilang berkahnya.
  2. Menyingkir dari orang-orang yang suka berbuat kerusakan dan kemaksiatan serta dari orang yang senang menganggur. Karena bergaul dengan mereka bisa terpengaruh.[20]
Telah dijelaskan oleh Syekh Az-Zarnuji bahwa etika atau akhlak belajar yang paling utama itu adalah niat yang baik, mencari guru yang baik, alim yang memiliki sifat wara’ dan yang lebih tua, menghormati guru dan memuliakan guru dimana pun guru itu berada, dan bersungguh-sungguh dalam belajar. jika hanya sebatas ada niat untuk menuntut ilmu tetapi tidak memiliki kesungguhan dan ketabahan dalam menuntut ilmu maka ilmu yang didapatkan kurang maksimal dan juga seorang yang mencari ilmu harus memiliki sifat wara’ dan bisa bertawakal dalam segala rintangan atau cobaan dalam mencari ilmu. Segala sesuatu yang sejak awal niatnya baik dan bersungguh-sungguh, Insyaallah  akan mendapatkan hasil yang baik pula.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis tentang peran etika murid dalam pembelajaran perspektif Az-Zarnuji Studi Kitab Ta’lim Al-Muta’allim, dapat disimpulkan bahwa gambaran peran guru dalam membentuk etika belajar tidak begitu berbeda dengan yang ada di teori-teori lainnya, hanya saja ada sedikit  poin yang berhubungan dengan nilai-nilai  batiniyah antara guru dengan murid  seperti: guru berperan membersihkan hati, mengarahkan, memberikan contoh dan mengiringi jiwa siswa untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari ridhanya, serta menanamkan ilmu pengetahuan kepada muridnya. Dengan mengedepankan akhlak dan etika belajar murid dalam proses pembelajaran dan terhadap guru sebagai orang yang berperan penting bagi siswa. Ini menjadi faktor yang sangat penting bagi seorang guru dalam penerapan akhlak belajar murid, seperti: niat yang baik dalam mencari ilmu, memilih ilmu, guru, teman dan tekun dalam mencari ilmu, penghormatan terhadap ilmu dan orang yang mempunyai ilmu, bersungguh-sungguh dalam belajar, ketekunan dan cita-cita serta mempunyai sikap wara’ dalam menuntut ilmu, tentu mempengaruhi dalam perkembangan murid, dan bisa memberi nilai plus pada seorang guru  untuk memberikan peran lebih terhadap para murid. (Masbuhin)

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Syekh Az-Zarnuji. 2009. Ta’lim Muta’allim terjemah Abdul Kadir Al-Jufri. Surabaya: Mutiara Ilmu.

Syekh Ibrohim bin Isma’il. (Tanpa Tahun). Syarh Ta’lim Al-Muta’llim Lil Imam Az-Zarnuji. Surabaya. Roudhotul Ilmi.

Mahmud. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia.

M. Nazir. 2003. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Abdullah Majid. dan Dian Andayani. 2012. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. cet. II. Bandung: PT. Rosda Karya.

Mukti Ali. 1996. Az-Zarnuji dan Imam Zarkasyi dalam Metodologi Pendidikan Agama. Ponorogo: Gontor Press. 1996

Ibrahim Anam. 2001. Guru Makhluk Serba Bisa. Bandung: PT. Al-Ma’arif.

Kholik dan Mahruddin. 2013. The Concept Of Learning Attitude In The Book Of Ta’lim Al-Muta’allim. Jurnal Sosial Humaniora 4.

Saifullah Idris Dan Z. A. Tabrani. 2017.Realitas Konsep Pendidikan Humanisme Dalam Konteks Pendidikan Islam. Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling 3. no 1.

Zamhari & Ulfa. 2016. Relevansi Metode Pembentukan Pendidikan Karakter dalam Kitab Ta’lim Al-Muta’allim Terhadap Dunia Pendidikan Modern. Yogyakarta. Jurnal UIN Sunan Kalijaga.

Rahman, Alfianoor. 2016. Pendidikan Akhlak Menurut Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’lim al-Muta’allim. Ponorogo. Jurnal Universitas Darussalam Gontor





[1] Kholik dan Mahruddin. The Concept Of Learning Attitude In The Book Of Ta’lim Al-Muta’allim. Jurnal Sosial Humaniora 4. 2013. hal. 26

[2] Abdullah Majid. dan Dian Andayani. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. cet. II. Bandung: PT. Rosda Karya. 2012. hal. 42

[3] Mahmud. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia. 2011. hal. 31

[4] M. Nazir. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia, 2003. hal. 27

[5] Fashl pertama tentang hakikat dari ilmu, dan keutamaan ilmu fiqh. Fashl kedua tentang niat ketika mencari ilmu. Fashl ketiga tentang memilih ilmu, guru, teman, dan tekun dalam mencari ilmu. Fashl keempat tentang memuliakan ilmu dan ahlul ilmi (guru). Fashl kelima tentang bersungguh-sungguh, tekun, dan cita-cita yang tinggi. Fashl keenam tentang permulaan belajar, kuantitas, dan tertib dalam mencari ilmu. Fashl ketujuh, tentang tawakkal. Fashl kedelapan tentang waktu belajar ilmu. Fashl kesembilan tentang kasih sayang dan nasehat. Fashl kesepuluh tentang cara mencari ilmu. Fashl kesebelas tentang wira’i. Fashl keduabelas perkara yang bisa menyebabkan hafal. Fashl ketigabelas tentang perkara yang yang bisa mempermudah rezeki. Lihat, Mukti Ali. Az-Zarnuji dan Imam Zarkasyi dalam Metodologi Pendidikan Agama. Ponorogo: Gontor Press. 1996. hal 910. Lihat juga Syekh Ibrohim bin Isma’il. Syarh Ta’lim Al-Muta’llim Lil Imam Az-Zarnuji. Surabaya. Roudhotul Ilmi. (Tanpa tahun). hal. 6

[6] Syekh Az-Zarnuji. Ta’lim Muta’allim, terjemah Abdul Kadir Al-Jufri. Surabaya: Mutiara Ilmu. 2009.  hal. 2

[7] Ibrahim Anam. Guru Makhluk Serba Bisa. Bandung: PT. Al-Ma’arif. hal. 32

[8] Syekh Az-Zarnuji. Ta’lim Muta’allim, terjemah Abdul Kadir Al-Jufri. Surabaya: Mutiara Ilmu. 2009. hal. 5

[9] Ibrahim Anam. Guru Makhluk Serba Bisa. Bandung: PT. Al-Ma’arif. 2001.  hal. 33

[10] Saifullah Idris Dan Z. A. Tabrani.Realitas Konsep Pendidikan Humanisme Dalam Konteks Pendidikan Islam. Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling 3. no 1. 2017. hal. 96-113

[11] Syekh Az-Zarnuji. Ta’lim Muta’allim terjemah Abdul Kadir Al-Jufri. Surabaya: Mutiara Ilmu. 2009.  hal. 2

[12] Ibid.  hal. 14

[13] Ibid.  hal. 13-14

[14] Ibid.  hal. 20

[15] Ibid.  hal. 22-23

[16] Ibid.  hal. 29-32

[17] Ibid.  hal. 33

[18] Ibid.  hal. 35

[19] Ibid.  hal. 39-45

[20] Ibid.  hal. 91-93


0 komentar:

Posting Komentar