Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Desember 2022

,

Metode Pembelajaran Kitab Kuning

METODE PEMBELAJARAN KITAB KUNING DI PONDOK PESANTREN

Oleh:

MOH. MASBUHIN

Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Lamongan

santriedepresieclub56@gmail.com


                                                                            Abstract


Islamic boarding school is one of the Islamic educational institutions in Indonesia, the first and oldest education system since the beginning of the entry of Islam in Indonesia. An educational process that adheres to the basic values ​​of Islamic teachings, without neglecting Pancasila which is used as a single ideology in Indonesia. The relationship between religion and the state is very close. Simplicity and life as it is are the hallmarks of Islamic boarding schools, the relationship between teacher and students that exceeds the relationship between children and parents, not just a physical relationship, but a spiritual relationship that emphasizes ethics, sincerity, and simplicity. Teacher is a source of reference, a place to solve all affairs and problems, and a place to ask for advice and fatwas. Therefore, in its development, the mosque was a place of learning (recitation). A life that prioritizes etiquette and attitude, amid the failure of the education system today. Islamic boarding schools come by keeping the good old values, and adopting new, better values. Islamic boarding schools are usually equipped with dormitories which are usually used as residences for students, with other facilities that are used for daily life. Islamic boarding schools in Indonesia are divided into two types: First, the salaf. Which reflects simplicity comprehensively. Both modern. which reflects modernity in the system of teaching methods and physical buildings, so that in essence the Islamic boarding school has three elements, namely; teacher, students, and dormitories.
 


Key Words
: Method, Turats, Islamic boarding school

                                                                                           Abstrak

Pondok pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan islam yang ada di Indonesia, system pendidikan pertama dan tertua sejak awal masuknya islam di Indonesia. Suatu proses pendidikan yang menganut nilai-nilai dasar ajaran Islam, tanpa mengkesampikan pancasila yang dijadikan sebagai ideologi tunggal pada Indonesia. Keterkaitan antara agama dan negara sangatlah erat. Kesederhanaan dan hidup serba apa adanya adalah ciri khas dari pondok pesantren, hubungan antara kyai dan santri yang melebihi hubungan anak dengan orang tua, tidak hanya sekedar hubungan fisik saja, tapi hubungan hati (ruhaniyah) yang mengedepankan etika, keihklasan dan kesederhanaan. Kyai adalah sumber refrensi, tempat menyelesaikan semua urusan dan masalah, tempat meminta nasihat dan fatwa. Oleh karena itu, dalam perkembangannya, masjid sebagai salah satu tempat belajar (mengaji). Kehidupan yang lebih mendahulukan adab dan menjaga sikap, di tengah gagalnya system pendidikan pada dewasa ini. Pondok pesantren datang dengan menjaga nilai-nilai lama yang baik, dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik. Pondok pesantren biasanya dilengkapi dengan asrama yang biasanya dijadikan sebagai tempat tinggal dari santri, dengan fasilitas-fasilitas yang lain yang di gunakan untuk keberlangsungan hidup sehari-hari. Pondok pesantren yang ada di indonesia terbagi menjadi dua corak: Pertama salaf. Yang mencerminkan kesederhanaan secara konprehensif. Kedua modern. yang mencerminkan kemoderenan dalam system metode pengajaran dan fisik bangunan, sehingga pada hakikatnya pondok pesantren memiliki tiga unsur yakni; kyai, santri, dan asrama.

Kata Kunci : Metode, Kitab kuning, Pondok pesantren


Pendahuluan

Pembelajaran adalah, proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dan memahami suatu pengetahuan dengan baik, atau bisa di katakan. Pembelajaran merupakan sebuah bantuan yang diberikan oleh pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan yang sudah dipelajari, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap, karakter, dan kepercayaan diri pada peserta didik. Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh pendidik untuk mengembangkan cara berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkontruksikan ilmu-ilmu baru.

Oleh karena itu, peran seorang pendidik/guru tidak akan bisa tergantikan oleh apapun, dan siapapun, entah alat atau lainnya. Pembelajaran pada intinya adalah interaksi antara guru dengan seorang murid secara langsung, dalam lingkungan atau instansi tempat belajar tertentu. Maka dari itu, pembelajaran yang baik, yang sudah di rencanakan oleh seorang guru haruslah ada pedoman metode-metode tertentu agar supaya pembelajaran tersebut bisa berjalan dengan baik, dan bisa sesuai dengan apa yang sudah di rancang, dan diharapkan oleh seorang guru untuk perubahan peserta didik.

Pondok pesantren sebagai satuan lembaga non formal, yang merupakan salah satu jenis lembaga tradisional yang ada di Indonesia, yang bertujuan untuk mendalami dan memahami ilmu-ilmu pengetahuan tentang agama, setelah itu mengamalkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena memang tujuan hidup manusia di dunia ini adalah untuk mencari ridho Allah SWT, dan ridho Allah SWT akan bisa tercapai apabila kita bisa memahami, dan mengetahui ilmu agama tersebut dengsn baik. Atau dalam kata lain, orang yang mencari ilmu didalam pondok pesantren biasa di sebut tafaqquh fid-din.

Peraktek penyelenggaraan lembaga pendidikan dalam pondok pesantren berbentuk asrama, yang mana tempat tersebut adalah tempat menetapnya para peserta didik dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, yang diasuh oleh satu orang sebagai pendidik, yang biasanya di bantu oleh sebagian dari peserta didik yang sudah senior, jika memang peserta didiknya sangatlah banyak. Dalam istilah pesantren, nama yang tersematkan pada pendidik adalah Kyai, pada peserta didik adalah santri, dan pada peserta didik yang senior adalah pengurus. Sosok kyai adalah satu sosok  yang sangatlah dihormati dan dimuliakan oleh seluruh santri, sosok figur yang dijadikan sebagai panutan dan teladan. Pesantren mempunyai tujuan agar seluruh santri mempunyai adab, dan akhlaq yang baik, pendidikan watak dan karakter yang tidak hanya diberikan didalam kelas saja, melainkan contoh langsung dari seorang kyai dalam praktek kehidupan sehari-hari, hubungan yang didasari oleh sikap rendah hati, kesederhanaan, keikhlasan, dan kewibawaan.

Dalam sejarah pendidikan disebutkan bahwa pesantren adalah sebagai bukti awal kepedulian masyarakat Indonesia terhadap pendidikan, sehingga pesantren juga disebut sebagai lembaga pendidikan pribumi tertua di Indonesia.[1] Dan pesantren mampu berkembang secara luas, dan perkembangan pesantren pada akhir abad ini sangatlah pesat, serta mampu menjangkau seluruh lapisan elemen masyarakat muslim yang ada di seluruh Indonesia.

Dengan realita dan kejadian yang ada, yang menjadikan ide pokok bagi penulis untuk menelisik eksistensi pondok pesantren salaf, di samping itu juga penulis juga termasuk alumnus dari salah satu satu pondok pesantren salaf tertua yang ada diwilayah Tuban-Jawa Timur. Dengan tetap berfokus pada hal-hal pokok yang ada pada pondok pesantren tersebut. Sehingga penulis ingin melakukan penulisan jurnal yang berjudul “ Metode Pembelajaran Kitab Kuning di Pondok Pesantren “

Pembahasan

Pengertian Metode Pembelajaran

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Metode merupakan cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.[2] Dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa metode mengandung arti adanya urutan kerja yang terencana, sistematis dan merupakan hasil eksperimen ilmiah guna mencapai tujuan yang telah direncanakan.[3]

Sedangkan yang dimaksud dengan pembelajaran adalah, proses interaksi siswa dengan pendidikan, dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah, proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.[4] Oemar Hamalik menjelaskan pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran.[5]

Metode pembelajaran adalah cara-cara yang digunakan pengajar atau instruktur untuk menyajikan informasi atau pengalaman baru, menggali pengalaman peserta belajar, menampilkan unjuk kerja peserta belajar, dan lain-lain, [6] dengan demikian dapat di ambil kesimpulan, bahwa metode pembelajaran adalah, suatu cara yang dilakukan untuk menyusun materi, atau pelajaran yang akan di sampaikan kepada peserta didik guna untuk tercapainya pembelajaran yang sudah direncanakan.

Penggunaan metode sangatlah penting dalam keberlangsungan pembelajaran, karena metode adalah, salah satu komponen dari pada proses pendidikan, metode merupakan alat mencapai tujuan yang didukung oleh alat-alat bantu mengajar (media pembelajaran), dan metode merupakan alat kebulatan dalam suatu sistem pendidikan.

Pengertian Kitab Kuning

Dalam dunia pesantren, asal-usul penyebutan kitab kuning belum di ketahui secara pasti, banyak pendapat dari berbagai sudut pandang yang menjelaskan, atau hanya sekedar mebicarakan tentang sejarah penyebutan kitab kuning. Termasuk dari  banyak kalangan ada yang mengatakan. Sebenarnya istilah kitab kuning adalah suatu ungkapan ejekan yang ditujukan pada kitab yang berwarna kuning, yang tidak ada harokatnya sama sekali. Entah karena terlalu kuno, ketingggalan zaman, atau mungkin karena tampilannya yang sangat sederhana hingga timbul persepsi kandungan ilmunya juga rendah. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Masdar F. Mas’udi “ kemungkinan besar sebutan itu datang dari pihak orang luar dengan konotasi yang sedikit mengejek. Terlepas dengan maksud apa dan oleh siapa dicetuskan, istilah ini telah menyebar kepada seluruh masyarakat baik di luar maupun didalam lingkungan pesantren ”[7] Imam bawani dalam bukunya yang bejudul “ Tradisionalisme dalam Pendidikan Islam ” memberikan batasan tentang kitab kuning yaitu, kitab-kitab yang berbahasa arab yang dikarang oleh ulama’ masa lalu, khususnya pada abad pertengahan.[8]

Dikalangan pesantren sendiri, di samping ada istilah “ Kitab Kuning ”, juga terdapat istilah “ kitab klasik ” (Kutub Al Muqaddimah), karena kitab yang ditulis merujuk pada karya-karya tradisional ulama’ terdahulu yang berbahasa Arab yang gaya penulisan dan bentuknya berbeda dengan buku modern. [9] Dan karena rentan waktu penulisannya yang sudah cukup lama sejak masa Tabi’in dan di awal masa dari dinasti abbasiyyah. Banyak penyebutan untuk kitab kuning, ada juga yang menyebutnya dengan sebutan “ Kitab Gundul” dinamakan kitab gundul karena cara penulisannya yang tidak ada tanda bacanya sama sekali, tidak ada syakal harokatnya, tidak ada tanda tanya, tanda seru, titik, dan koma. Sedangkan untuk cara membacanya ada ilmu khusus untuk bisa membaca kitab tersebut, yakni harus faham dan menguasai ilmu nahwu dan shorof (ilmu gramatika bahasa arab).

Menurut Zuhri sebagaimana dikutip dari Arifin bahwa kitab kuning biasanya ditulis atau dicetak memakai huruf Arab dalam bahasa Arab, Melayu, Sunda, dan sebagainya. Hurufnya tidak diberi harokat atau tanda baca oleh karena itu sering disebut dengan kitab gundul. Umumnya kitab ini dicetak dengan kertas berwarna kuning, berkualitas murah, lembaran-lembarannya terlepas atau tidak berjilid, sehingga mengambil bagian yang diperlukan tanpa harus membawa satu kitab yang utuh. Lembaran-lembaran yang terlepas ini disebut korasan, dan satu korasan biasanya berisi delapan halaman.[10]

Berdasarkan paparan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa kitab kuning adalah, suatu kitab yang menjelaskan tentang berbagai macam ilmu agama islam yang bersumber dari Al qur’an, dan Al hadits. Yang ditulis oleh para ulama’ terdahulu, baik yang ditulis diatas kertas berwarna kuning, atau putih, yang berisikan berbagai macam fan ilmu islam yang dikembangakn oleh para ulama’ sesuai dengan keadaan yang terjadi, dan perkembangan zaman, serta kejadian sejarah yang ada.

Jenis - Jenis Kitab Kuning

Menurut Said Aqil Siradj kitab kuning diklasifikasikan dalam empat kategori:

Dilihat dari kandungan maknanya. Dilihat dari kadar penyajiannya. Dilihat dari kreatifitas penulisannya. Dilihat dari penampilan uraiannya.[11]

 

Dilihat Dari Kandungan Maknanya

Kitab kuning dibagi menjadi 2 macam;

a)   Kitab yang berbentuk penawaran atau penyajian ilmu secara polos (naratif) seperti sejarah, hadits dan tafsir.

b)     Kitab yang menyajikan materi yang berbentuk kaidah keilmuan, seperti; nahwu, shorof, ushul fiqih, dan mustalah hadis (istilahistilah yang berkenaan dengan hadis).

Dilihat Dari Kadar Penyajiannya

Kitab kuning dapat di bagi menjadi 3 macam;

a)    Mukhtasar yaitu, kitab yang tersusun secara ringkas dan menyajikan pokok-pokok masalah, baik yang muncul dalam bentuk nadzam atau syi‘r (puisi) maupiun dalam bentuk nasr (prosa),

b)   Syarah yaitu kitab yang memberikan uraian panjang dan lebar, menyajikan argumentasi ilmiah secara komparatif dan banyak mengutip ulasan para ulama (fatwa) dengan argumentasi masing-masing.

c)   Kitab kuning yang penyajian materinya tidak terlalu ringkas dan juga tidak terlalu panjang/melebar (mutawasithoh).

 

Dilihat Dari Kreatifitas Penulisannya

Kitab kuning dapat dibagi menjadi 7 macam;

a)     Kitab yang menampilkan gagasan baru, seperti Kitab Ar Risalah (kitab ushul fiqih) karya Imam Syafi‘i, Al-‘Arud wa Al-Qawafi (kaidah-kaidah penyusunan sya’ir) karya Imam Khalil bin Ahmad Farahidi, atau teori-teori ilmu kalam (aqidah) yang dimunculkan oleh Washil bin Atha‘, Abu Hasan Al Asy‘ari, dan ulama-ulama’ lain-lain,

b)   Kitab yang muncul sebagai penyempurnaan terhadap karya yang telah ada, seperti kitab Nahwu (tata bahasa Arab) karya As Sibawaih yang menyempurnakan karya Abul Aswad Ad Du’ali.

c)     Kitab yang berisi keterangan dan penjelasan (syarah) terhadap kitab yang telah ada, seperti kitab Fath Al-Bari (hadits) karya Ibnu Hajar Al-Asqolani yang memberikan komentar terhadap kitab Shahih Al-Bukhari (hadits) karya Muhammad Bin Isma’il Al-Bukhori. Kitab Fath Al-Qarib (fiqh) karya Ibnu Qosim Al Ghazi yang mengomentari kitab Al-Ghayah wa At-Taqrib (fiqh) karya Abu Syuja’.

d)    Kitab yang meringkas karya yang panjang lebar, seperti kitab Lubb Al-Usul (ushul fiqih) karya Zakariya Al-Anshori sebagai ringkasan dari kitab Jam’u AlJawami’ (ushul fiqih) karya AsSubki. Kitab Al-Basith (fiqh) karya Al-Ghazali sebagai ringkasan dari kitab gurunya Nihayah al-Mathlab fi Dirayah al-Madzhab (fiqh) karya Abdul Malik bin Abdullah Al-Juwaini.

e)   Kitab yang berupa kutipan dari berbagai kitab lain, seperti Ulum Al-Qur‘an (ilmu-ilmu Al-Qur‘an) karya Al-‘Aufi.

f)  Kitab yang memperbarui sistematika kitab-kitab yang telah ada, seperti kitab Ihya’ Ulum Ad-Din (Tasawwuf) karya Imam Al-Ghazali,

g)     Kitab yang berisi kritik, seperti kitab Mi’yar Al-Ilmi (buku yang meluruskan kaidah-kaidah logika/filsafat) karya Al-Ghozali.

 

Dilihat Dari Penampilan Uraiannya

Kitab kuning kuning mempunyai 5 dasar;

a)     Mengulas pembagian sesuatu yang umum menjadi khusus, sesuatu yang ringkas menjadi terperinci, dan seterusnya.

b)    Menyajikan redaksi yang teratur dengan menampilkan beberapa pernyataan, lantas kemudian menyusun menjadi sebuah kesimpulan.

c)     Membuat ulasan tertentu ketika mengulangi uraian yang dianggap perlu, sehingga menampilkan materi yang tidak acak-acakan dan pola pikirnya dapat lurus.

d)     Memberikan batasan-batasan jelas ketika penulisnya menurunkan/menjelaskan sebuah definisi.

e)     Menampilkan beberapa ulasan dan argumentasi yang dianggap perlu.

Nurcholish Madjid mengemukakan kitab ini mencakup ilmu-ilmu: Fiqih, Tauhid, Tasawuf, Nahwu, Dan Sharaf. Atau dapat juga dikatakan konsentrasi keilmuan yang berkembang di pesantren pada umumnya mencakup tidak kurang dari 12 macam disiplin keilmuan: Nahwu, Sharaf, Balaghah, Tauhid, Fiqh, Ushul fiqh, Qawa’id Al-fiqhiyah, .Tafsir, Hadits, Musthalah Al-haditsah, Tasawwuf, dan Mantiq.[12]

Adapun kitab-kitab yang menjadi konsentrasi keilmuan di pesantren yaitu: Cabang ilmu Fiqh; Safinah Al-Shalah, Safinah An-Najah, Fath Al-Qarib, Taqrib, Fath Al-Mu’in, 6) Minhaj Al-Qawim, Muthma’innah, Al-Iqna’, Fath Al-Wahhab. Cabang ilmu Tauhid; Tijan Ad-Darori ‘Aqidah Al-Awamm (nadzam), Bad Al-‘Amal (nadzam), As-Sanusiyah. Cabang ilmu tasawwuf; Al-Nasha Ad-Diniyah, Al-Nasha Al-‘Ibad, Irsyad Al-‘Ibad, Tanbih Al-Ghafilin, Minhaj Al-‘Abidin , Al-Da’wah At-Tammah, Al-Hikam, Risalat Al-Mu’awanah wa Al-Muzhaharah, 8) Bidayah Al-Hidayah. Cabang ilmu Nahwu dan Sharaf; Al-Maqsud (nadzam), ‘Awamil (nadzam), Al-‘Imriti (nazham), Ajurumiyah, Kaylani, Mirhah Al-I’rab, Alfîyah Ibnu Al-Malik (nadzam), Ibnu ‘Aqil.[13] Selain diatas, masih banyak lagi kitab-kitab salaf yang karena keterbatasan keadaan, penulis tidak bisa menyebutkannya satu persatu.

 

Metode Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren

Metode pembelajaran kitab kuning merupakan cara yang di tempuh oleh para kyai atau pendidik agar supaya pembelajaran kitab kuning bisa berjalan sesuai dengan apa yang sudah diharapkan, dengan melihat keadaan, dan aspek-aspek yang terjadi, dengan melihat berbagai latar belakang dan macam-macam santri atau peserta didik.

Macam-macam metode pembelajaran kitab kuning, Menurut Zamakhsyari Dhofier dan Nurclolish Madjid, metode pembelajaran kitab kuning meliputi, metode sorogan dan bandongan. sedangkan Husein Muhammad menambahkan bahwa, selain metode wetonan atau bandongan, dan metode sorogan, diterapkan juga metode diskusi (munadzarah), metode evaluasi, dan metode hafalan.[14] Berikut beberapa metode pembelajaran yang bisa disebutkan oleh penulis melalui pengalaman Nyantri di salah satu pondok pesantren salaf;

Metode Bandongan

Metode pembelajaran ini biasanya berlangsung satu jalur (monolog), yakni kyai membacakan, menerjemahkan, dan kadang- kadang memberi komentar, sedang santri atau peserta didik mendengarkan penuh perhatian sambil mencatat makna harfiah (sah-sahan)-nya atau makna pegon dan memberikan simbol-simbol I’rob (kedudukan kata dalam struktur kalimatnya).[15]

Metode bandongan yaitu, cara penyampaian kitab dimana seorang guru, kiai, atau ustadz membacakan dan menjelaskan isi kitab, sementara santri, murid, atau siswa mendengarkan, memberikan makna, dan menerima.[16]

Senada dengan yang diungkapkan oleh Endang Turmudi bahwa, dalam metode ini kiai hanya membaca salah satu bagian dari sebuah bab dalam sebuah kitab, menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia dan memberikan penjelasan-penjelasan yang diperlukan.[17]

Armai mengungkapkan dalam bukunya bahwa metode bandongan adalah, kyai menggunakan bahasa daerah setempat, kyai membaca, menerjemahkan, menerangkan kalimat demi kalimat kitab yang dipelajarinya, santri secara cermat mengikuti penjelasan yang diberikan oleh kyai dengan memberikan catatan-catatan tertentu pada kitabnya masing-masing dengan kode-kode tertentu sehingga kitabnya disebut kitab jenggot karena banyaknya catatan yang menyerupai jenggot seorang kyai.[18]

Metode Sorogan

Metode sorogan adalah pengajian yang merupakan permintaan dari seorang atau beberapa orang santri kepada kyainya untuk diajari kitab tertentu, pengajian sorogan biasanya hanya diberikan kepada santri-santri yang cukup maju, khususnya yang berminat hendak menjadi kyai[19]

Lebih lanjut Zamakhsyari Dhofier memaparkan dalam bukunya Metode sorogan adalah, seorang murid mendatangi guru yang akan membacakan beberapa baris Al- Quran atau kitab-kitab bahasa arab dan menerjemahkan kata demi kata kedalam bahasa tertentu yang pada giliranya murid mengulangi dan menerjemahkan kata perkata sepersis mungkin seperti apa yang dilakukan atau yang disampaikan oleh gurunya.[20]

Metode Diskusi (munadzarah)

Kata lain dari metode diskusi adalah, musyawarah. Dimana di antara para santri ada salah satu dari mereka yang bertugas untuk membacakan satu jenis kitab, atau satu fan ilmu, kemudian menjelaskannya secara gamblang, santri yang lain bertugas mendengarkan sambil melihat atau menyimak kitab yang sudah dibacakan tadi. Makna pegon, penjelasan, dan keterangan. Apakah sudah sama seperti yang sudah disampaikan oleh ustadz atau tidak. Sedangkan ustadz hanya bertugas untuk mengawasi saja, sambil melihat perkembangan para santri atau peserta didik dalam penguasaan materi yang sudah diajarkan. Jika ada yang melenceng dari pembahasan, seorang ustadz baru angkat bicara untuk meluruskan. Lantas kemudian diakhir forum ada istilah diskusi, membicarakan keterangan yang ada didalam kitab, dengan membenturkan penjelasan isi kitab tadi dengan kejadian-kejadian sekarang yang sedang terjadi. Santri yang lain juga dengan seksama mengikuti diskusi yang sedang berlangsung dengan ikut serta menjawab permasalahan-permasalahan tadi dengan argument mereka masing-masing yang diambil dari kitab syarah atau kitab yang lebih panjang lebar penjelasannya.

Metode diskusi dapat diartikan sebagai jalan untuk memecahkan suatu permasalahan yang memerlukan jawaban alternatif yang dapat mendekati kebenaran dalam proses belajar mengajar.[21]

Selaras dengan hasil penelitian. Arif Armai dalam bukunya juga menjelaskan mengenai tentang gambaran dari metode diskusi. Ialah, Didalam forum diskusi atau munadharah ini, para santri. Mulai santri pada jenjang menengah, membahas atau mendiskusikan suatu kasus dalam kehidupan masyarakat sehari-hari (waqi’iyah) untuk kemudian dicari pemecahannya secara fiqh (yurisprudensi Islam). Dan pada dasarnya para santri tidak hanya belajar memetakan dan memecahkan suatu permasalahan hukum namun di dalam forum tersebut para santri juga belajar berdemokrasi dengan menghargai pluralitas pendapat yang muncul dalam forum.[22]

Metode Hafalan

Suatu teknik yang dipergunakan oleh seorang pendidik dengan menyerukan anak didiknya untuk menghafalkan sejumlah kata-kata (mufrodad), atau kalimat-kalimat maupun kaidah-kaidah. Tujuan teknik ini adalah agar anak didik mampu mengingat pelajaran yang diketahui serta melatih daya kognisinya, ingatan dan fantasinya.[23] Dalam dunia pesantren biasanya seorang santri di suruh oleh guru atau ustadznya untuk mengahfalkan pelajaran-pelajaran tertentu, seperti halnya hadits pilihan, rumus suatu ilmu, qo’idah dan nadzam yang akan diajarkan. Dan dibawah pengawasan guru secara langsung.

Metode Ceramah

Metode ceramah adalah penerangan atau penuturan secara lisanoleh guru terhadap kelas.[24] Metode inilah yang sering digunakan dalam pesantren, dimana seorang guru menjelaskan materi secara jelas, sedangkan santri mendengarkan secara khusyu’.

Menurut Nana Sudjana, metode ceramah ini wajar digunakan apabila guru ingin mengajarkan topik baru, tidak ada sumber bahan pelajaran pada siswa, dan menghadapi sejumlah siswa yang cukup banyak.[25]

 

Kesimpulan

Kitab kuning adalah salah satu kitab warisan dari para ulama’ salaf terdahulu, yang seluruh isinya bersumber dari Al-Qur’an, dan Al-Hadits, dan berbagai tambahan dari pendapat para ulama’ yang dihasilkan dari ijtihad mereka. Metode pembelajaran yang menerapkan sistem klasikal yang sampai saat ini masih tetap dilestarikan oleh banyak pondok pesantren salaf khususnya yang ada di Indonesia. Bahkan sudah menjadi kultur budaya, dan menjadi rahasia umum, artinya. Jika kita menyebutkan nama pondok pesantren maka sudah pasti yang akan tergambar dibenak fikiran seluruh orang adalah kitab kuning.

Berbagai macam metode yang diterapkan dalam mempelajari kitab kuning, metode yang tetap dilestarikan dari masa kemasa dalam khazanah keilmuan pondok pesantren. Di antaranya adalah; Metode bandongan, sorogan, diskusi, hafalan, dan ceramah, serta masih banyak lagi metode-metode yang lain yang tidak bisa di sebutkan satu persatu oleh penulis. Dan pastinya setiap pondok pesantren mempunyai metode khusus yang di jadikan sebagai ciri khas dari setiap pondok pesantren dalam keberlangsungan pembelajarannnya. (Masbuhin)

 

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

KBBI V. Aplikasi Luring Resmi Badan Pegembangan Dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Armai Arief. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. (Jakarta: Ciputat Perss.

Ahdar Djamaluddin, 2019. Wardana. Belajar Dan Pembelajaran 4 Pilar Peningkatan Kompetensi Pedagogis. Sulawesi Selatan: CV Kaaffah Learning Center. 2019).

Hamalik Oemar. 2001. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. 2001.

Uno, B. Hamzah. 2009. Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.


M. Darwam Rahardjo. 1985. Pergulatan Dunia Pesantren. Jakarta: P3M.

Imam Bawani. 1993. Tradisionalisme Dalam Pendidikan Islam. Surabayah: Al- Ikhlas.

Endang Turmudi. 2004. Perselingkuhan Kiai dan Kekuasaan. Yogyakarta: LKiS.

Imron Arifin. 2000. Kepemimpinan. Bogor: Bulan Bintang.

Said Aqil Sirajd. 2004. Pesantren Masa Depan. Cirebon:  Pustaka Hidayah.

Nurcholish Madjid. 1997. Bilik-bilik pesantren, sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: Paramadina.

Barizi Ahmad. 2002. Pendidikan Integratif: Akar Tradisi & Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam. Malang: UIN Maliki Press.

Dhofier Zamakhsyari. 1994. Tradisi Pesantren, studi tentang pandangan hidup kyai. Jakarta: LP3ES.

Roestiyah NK. 2012. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta Rineka Cipta.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.



[1] Depdiknas. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 2008). hal 1.

[2] KBBI V. Aplikasi Luring Resmi Badan Pegembangan Dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia.

[3] Armai Arief. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. (Jakarta: Ciputat Perss. 2002). hal 87.

[4] Ahdar Djamaluddin, Wardana. Belajar Dan Pembelajaran 4 Pilar Peningkatan Kompetensi Pedagogis. (Sulawesi Selatan: CV Kaaffah Learning Center. 2019). hal 13.

[5] Hamalik Oemar. Kurikulum dan Pembelajaran. (Jakarta: Bumi Aksara. 2001). hal 57.

[6] Uno, B. Hamzah. Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang Kreatif dan Efektif. (Jakarta: Bumi Aksara. 2009). hal 65.

[7] M. Darwam Rahardjo. Pergulatan Dunia Pesantren. (Jakarta: P3M. 1985). hal 55.

[8] Imam Bawani. Tradisionalisme Dalam Pendidikan Islam. (Surabayah: Al- Ikhlas.  Cet I. 1993. hal 135.

[9] Endang Turmudi. Perselingkuhan Kiai dan Kekuasaan. (Yogyakarta: LKiS. 2004). hal 36.

[10] Imron Arifin. Kepemimpinan. (Bogor: Bulan Bintang, 2000). hal 10.

[11] Said Aqil Siradj. Pesantren Masa Depan. (Cirebon:  Pustaka Hidayah. 2004). hal 335.

[12] Nurcholish Madjid. Bilik-bilik pesantren, sebuah Potret Perjalanan. (Jakarta: Paramadina. 1997). hal 28-29.

[13] Ibid. hal 28-29.

[14] Said Aqil Siradj. Op. cit. hal 280.

[15] Barizi Ahmad. Pendidikan Integratif: Akar Tradisi & Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam. (Malang: UIN Maliki Press 2002). hal 65.

[16] Said Aqil Siradj. Op. cit. hal 281.

[17] Endang Turmudi. Op. cit. hal 36.

[18] Armai Arief. Op. cit. hal 154.

[19] Nurcholish Madjid. Op. cit. hal 28.

[20] Dhofier Zamakhsyari. Tradisi Pesantren, studi tentang pandangan hidup kyai. (Jakarta: LP3ES. 1994). hal 28.

[21] Armai Arief. Op. cit. hal 149.

[22] Ibid. hal. 148-149

[23] Abdul Mujib dan Muhaimin. Pemikiran Pendidikan Islam. (Bandung: Trigenda Karya. 1993). hal 276.

[24] Roestiyah NK. Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta Rineka Cipta. 2012). hal 138.

[25] Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. (Bandung: Alfabeta. 2009). hal 78.

Continue reading Metode Pembelajaran Kitab Kuning