Sabtu, 19 Maret 2022

Terjemah Kitab Tijan Ad - Darori ( رسالة تيجان الدرارى)

TERJEMAH INDONESIA KITAB TIJAN AD DARORI

                                                            (رسالة تيجان الدراري)

Risalah Tijan Ad Darori Lil Imam Ibrohim Al - Bajuri

(Bagian I)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ (وَ بَعْدُ)

    Dengan menyebut nama allah yang maha pengasih, lagi maha penyayang.

    Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam, Sanjungan Shalawat serta Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasūlullāh SAW. Dan setelah itu (membaca basmalah, ḥamdalah, shalawat dan salām)

فَيَقُوْلُ فَقِيْرٌ رَحْمَةَ رَبِّهِ الْخَبِيْرِ الْبَصِيْرِ إِبْرَاهِيْمُ الْبَاجُوْرِيُّ ذُو التَّقْصِيْرِ


    Maka berkatalah seseorang yang faqir dari rahmat Tuhannya Yang Maha Waspada dan Maha Melihat, yakni Ibrahim al-Bajuri yang mempunyai sifat lalai.

طَلَبَ مِنِّيْ بَعْضُ الْإِخْوَانِ أَصْلَحَ اللهُ لِيْ وَ لَهُمُ الْحَالَ وَ الشَّأْنَ أَنْ أُكْتِبَ لَهُ رِسَالَةً تَشْتَمِلُ عَلَى صِفَاتِ الْمَوْلَى وَ أَضْدَادِهَا، وَ مَا يَجُوْزُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى، وَ عَلَى يَجِبُ فِيْ حَقِّ الرُّسُلِ وَ مَا يَسْتَحِيْلُ فِيْ حَقِّهِمْ وَ مَا يَجُوْزُ


    Beberapa saudaraku - semoga Allah memberikan kebaikan keadaan terhadapku dan kepada mereka - memintaku agar supaya menuliskan untuk mereka sebuah risalah (kitab kecil) yang isinya memuat sifat-sifat Allah SWT, dan kebalikannya, serta sifat yang boleh bagi Allah Ta’ala. Dan sifat yang wajib bagi para Rasul, sifat mustahil bagi para Rasul, dan sifat yang boleh.

فَأَجَبْتُ إِلَى ذلِكَ فَقُلْتُ وَ بِاللهِ التَّوْفِيْقُ

    Maka aku penuhi permintaan mereka. Kemudian aku berkata " Hanya kepada Allah aku memohon pertolongan "

وَ يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ أَنْ يَعْرِفَ مَا يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى وَ مَا يَسْتَحِيْلُ وَ مَا يَجُوْزُ

    Wajib bagi setiap orang mukallaf (muslim yang sudah baligh atau berakal) untuk mengetahui perkara yang wajib (sifat wajib) pada Allah Ta’ala, perkara yang mustahil (sifat muhal), serta perkara yang boleh (sifat jaiz) pada allah.
.فَيَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْوُجُوْدُ
وَضده العدم, الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ وُجُوْدُ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ

    Maka wajib dalam haknya Allah Ta’ala sifat "الوجود" (al-Wujud/ada). Lawannya yaitu sifat "العدم" (al-‘adam artinya tiada). Adapun dalil atas wujudnya Allah Ta’ala yaitu, adanya semua ciptaan (alam semesta beserta isinya baik yang nyata maupun yang ghaib dsb.).

.وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْقِدَمُ. وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَا أَوَّلَ لَهُ تَعَالَى، وَ ضِدُّهُ الْحُدُوْثُ

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ حَادِثًا لَاحْتَاجَ إِلَى مُحْدِثٍ، وَ هُوَ مُحَالٌ


    Dan wajib dalam haknya Allah Ta’ala, sifat "القدم" (al-qidam/Dahulu). Artinya yaitu tiada permulaan bagi Allah Ta’ala. Lawannya yaitu sifat "الحدوث" (al-Huduts/baru). Adapun dalil atas dahulunya Allah Ta’ala yaitu, jikalau Allah adalah sesuatu yang baru, maka tentu Allah membutuhkan terhadap pembaharu. Dan hal itu tidak bisa diterima akal (mustahil).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْبَقَاءُ وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَا آخِرَ لَهُ، وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ فَانِيًا لَكَانَ حَادِثًا وَ هُوَ مُحَالٌ


    Dan wajib dalam haknya Allah Ta’ala, sifat "البقاء" (al-baqa/kekal). Artinya sesungguhnya Allah Ta’ala tiada akhirnya. Adapun dalil atas kekalnya Allah Ta’ala yaitu, jikalau Allah adalah sesuatu yang binasa (al-fana), maka tentu Allah merupakan sesuatu yang baru. Dan hal itu tidak bisa diterima akal (mustahil}.

وَيَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ، وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَيْسَ مُمَاثِلًا لِلْحَوَادِثِ، فَلَيْسَ لَهُ يَدٌ وَ لَا عَيْنٌ وَ لَا أُذُنٌ وَ لَاغَيْرُ ذلِكَ مِنْ صِفَاتِ الْحَوَادِثِ وَ ضِدُّهَا الْمُمَاثَلَةُ. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مُمَاثِلًا لِلْحَوَادِثِ لَكَانَ حَادِثًا وَ هُوَ مُحَالٌ


    Dan wajib dalam haknya Allah Ta’ala, sifat "مخالفة للحوادث" (mukholafah lil hawaditsi/berbeda dengan makhluk). Artinya sesungguhnya Allah Ta’ala tiada serupa dengan para makhluk. Allah tidak ada tangan, tiada mata, tiada telinga, dan tiada yang lainnya dari sifat-sifat para makhluk. Lawannya yaitu sifat "المماثلة" (al-mumatsalah/serupa). Adapun dalil atas berbedanya Allah Ta’ala dengan makhluk yaitu, sesungguhnya jikalau Allah merupakan sesuatu yang serupa dengan makhluk, maka tentu Allah merupakan sesuatu yang baru. Dan hal itu tidak bisa di terima akal (mustahil).

وَيَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْقِيَامُ بِالنَّفْسِ، وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَا يَفْتَقِرُ إِلَى مَحَلٍّ وَ لَا إِلَى مُخَصِّصٍ. وَ ضِدُّهُ الْاِحْتِيَاجُ إِلَى الْمَحَلِّ وَ الْمَخَصِّصِ. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوِ احْتَاجُ إِلَى مَحَلِّ لَكَانَ صِفَةً وَ كَوْنُهُ صِفَةً مُحَالٌ. وَ لَوِ احْتَاجَ إِلَى مُخَصِّصٍ لَكَانَ حَادِثًا وَ كَوْنُهُ حَادِثًا مُحَالٌ


    Dan wajib dalam haknya Allah Ta’ala, sifat "القيام بالنفس" (al-qiyaam bi al-nafs/berdiri sendiri). Artinya sesungguhnnya Allah Ta’ala tidak membutuhkan tempat dan tidak pula butuh terhadap yang mewujudkan. Lawannya yaitu sifat  "الإحتياج" (al-ihtiyaj/butuh) terhadap tempat dan yang mewujudkan. Adapun dalil atas Allah Ta’ala berdiri sendiri yaitu, sesungguhnya jikalau Allah Ta’ala membutuhkan pada tempat maka Allah merupakan sifat. Dan Allah merupakan sifat itu adalah mustahil. Dan jikalau Allah membutuhkan terhadap yang mewujudkan, maka tentu Allah merupakan sesuatu yang baru. Dan Allah merupakan sesuatu yang baru itu mustahil.

وَيَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْوَحْدَانِيَّةُفِي الذَّاتِ وَ فِي الصِّفَاتِ وَ فِي الْأَفْعَالِ، وَ مَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الذَّاتِ أَنَّهَا لَيْسَتْ مُرَكَّبَةً مِنْ أَجْزَاءٍ مُتَعَدِّدَةٍ. وَ مَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الصِّفَاتِ أَنَّهُ لَيْسَ صِفَتَانِ فَأَكْثَرَ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ كَقُدْرَتَيْنِ وَ هكَذَا وَ لَيْسَ لِغَيْرِهِ صِفَةٌ تُشَابِهُ صِفَتَهُ تَعَالَى. وَ مَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الْأَفْعَالِ أَنَّهُ لَيْسَ لِغَيْرِهِ فِعْلٌ مِنَ الْأَفْعَالِ. وَ ضِدُّهَا التَّعَدُّدِ. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مُتَعَدِّدًا لَمْ يُوْجَدْ شَيْءٌ مِنْ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ


    Dan wajib dalam haknya Allah Ta’ala, sifat "الوحدانية" (al-wahdaniyat/tunggal) di dalam dzat-Nya, di dalam sifat-sifat-Nya, dan di dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Arti tunggal dalam dzat-Nya yaitu, sesungguhnya Allah tidak tersusun dari bagian-bagian yang berbilang. Dan arti tunggal dalam sifat-sifat-Nya yaitu, sesungguhnya tiada dua sifat atau lebih pada Allah dari satu jenis sifat seperi adanya dua kekuasaan. Begitupun pada yang lain tiada satu sifat pun yang menyerupai terhadap sifat Allah Ta’ala. Dan arti tunggal dalam perbuatan-perbuatan-Nya, yaitu tidak ada bagi yang lain suatu perbuatan dari sebagian perbuatan-perbuatan Allah. Lawannya yaitu sifat التعدد (at-ta’addud/berbilang). Adapun dalil atas tunggalnya Allah Ta’ala yaitu, sesungguhnya jikalau Allah merupakan sesuatu yang banyak/berbilang, maka tidak akan dijumpai sesuatu apapun dari ciptaan-ciptaan-Nya.

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْقُدْرَةُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يُوْجَدُ بِهَا وَ يُعَدِّمُ. وَ ضِدُّهَا الْعَجْزُ. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ عَاجِزًا لَمْ يُوْجَدْ شَيْءٌ مِنْ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ.


    Dan wajib dalam haknya Allah Ta’ala, sifat "القدرة" (al-qudrat/berkuasa). Yaitu suatu sifat terdahulu yang ada pada Allah Ta’ala yang dengannya Allah mewujudkan dan meniadakan. Lawannya yaitu sifat "العجز" (al-Ajz/lemah). Adapun dalil bahwa Allah Ta’ala berkuasa yaitu, sesungguhnya jikalau Allah lemah, maka tidak akan dijumpai sesuatu apapun dari ciptaan-ciptaan-Nya.  

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْإِرَادَةُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتهِ تَعَالَى يُخَصِّصُ بِهَا الْمُمْكِنَ بِالْوُجُوْدِ أَوْ بِالْعَدَمِ أَوْ بِالْغِنَى أَوْ بِالْفَقْرِ أَوْ بِالْعِلْمِ أَوْ بِالْجَهْلِ إِلَى غَيْرِ ذلِكَ. وَ ضِدُّهَا الْكَرَاهَةُ. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ كَارِهًا لَكَانَ عَاجِزًا وَ كَوْنُهُ عَاجِزًا مُحَالٌ.

    Dan wajib dalam haknya Allah Ta’ala, sifat "الإرادة" (al-Iradat/berkehendak). Yaitu suatu sifat terdahulu yang ada pada Allah Ta’ala yang dengannya Allah menentukan sesuatu yang mungkin ada atau tiada, kaya atau miskin, pintar atau bodoh, dan lain sebagainya. Lawannya yaitu sifat "الكراهة" (al-karohah/terpaksa/tiada berkehendak). Adapun dalil atas berkehendaknya Allah Ta’ala yaitu, sesungguhnya jikalau Allah terpaksa/tidak berkehendak, maka tentulah Allah lemah. Dan adanya Allah lemah itu mustahil.

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْعِلْمُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يَعْلَمُ بِهَا الْأَشْيَاءَ. وَ ضِدُّهَا الْجَهْلُ. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ جَاهِلًا لَمْ يَكُنْ مُرِيْدًا وَ هُوَ مُحَالٌ.


    Dan wajib dalam haknya Allah Ta’ala, sifat "العلم" (al-ilmu/tahu). Yaitu sifat terdahulu yang ada pada Allah Ta’ala yang dengannya Allah mengetahui setiap perkara. Lawannya yaitu sifat "الجهل" (al-jahl/bodoh). Adapun dalil atas tahunya Allah Ta’ala yaitu, sesungguhnya jikalau Allah bodoh, maka tidaklah Allah merupakan yang berkehendak. Dan hal itu tidak bisa di terima akal (mustahil).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْحَيَاةُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى تُصَحِّحُ لَهُ أَنْ يَتَّصِفَ بِالْعِلْمِ وَ غَيْرِهِ مِنَ الصِّفَاتِ. وُ ضِدُّهَا الْمَوْتُ. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مَيِّتًا لَمْ يَكُنْ قَادِرًا وَ لَا مُرِيْدًا وَ لَا عَالِمًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

    Dan wajib dalam haknya Allah Ta’ala, sifat "الحياة" (al-hayat/hidup). Yaitu sifat terdahulu yang ada pada Allah Ta’ala yang membenarkan kepada Allah atas adanya sifat al-ilmu dan sifat-sifat lainnya. Lawannya yaitu sifat "الموت" (al-Maut/mati). Adapun dalil atas hidupnya Allah Ta’ala yaitu, sesungguhnya jikalau Allah mati, maka tidaklah Allah merupakan dzat yang berkuasa, tidak pula yang berkehendak, tidak pula yang berpengetahuan. Dan itu mustahil.



Risalah Tijan Ad - Darori (Bagian II)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى السَّمْعُ وَ الْبَصَرُ وَ هُمَا صِفَتَانِ قَدِيْمَتَانِ قَائِمَتَانِ بِذَاتِهِ تَعَالَى يَنْكَشِفُ بِهِمَا الْمَوْجُوْدُ. وَ ضِدُّهُمَا الصَّمَمُ وَ الْعَمَى. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: (وَ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ) – (الشورى: 11)

    Dan wajib dalam haknya Allah Ta’ala, sifat "السمع" as-sama’/mendengar) dan "البصر" (al-Bashor/ melihat). Yaitu dua sifat terdahulu yang keduanya ada pada Allah Ta’ala yang dengan keduanya bisa tersingkap perwujudan. Lawannya yaitu sifat "الصمم" (as-Shomam/tuli) dan "العمي" (al-Umy/buta). Adapun dalil atas mendengar dan melihatnya Allah Ta’ala yaitu firman Allah Ta’ala, - وهو السميع البصير - (Q.S. Surat As - Syuro : 11).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْكَلَامُ وَ هُوَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى لَيْسَتْ بِحَرْفٍ وَ لَا صَوْتٍ. وَ ضِدُّهَا الْبُكْمُ وَ هُوَ الْخَرَسُ. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: (وَ كَلَّمَ اللهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا) – (النساء: 164).

    Dan wajib dalam haknya Allah Ta’ala, sifat "الكلام" (al-kalam/berfirman). Yaitu suatu sifat terdahulu yang ada pada Allah Ta’ala. Dan fiman ini bukanlah dengan huruf dan bukan dengan suara. Lawannya yaitu sifat Al-Bukm yaitu "البكم" (al-hirsy/bisu). Adapun dalil atas berfirmannya Allah Ta’ala yaitu firman Allah Ta’ala, - وكلم الله موسى تكليما - (Q.S. An - Nisa' : 164)

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ قَادِرًا. وَ ضِدُّهُ كَوْنُهُ عَاجِزًا. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ دَلِيْلُ الْقدْرَةِ


    Dan wajib dalam haknya Allah Ta’ala, sifat "كونه قادرا" (kaunuhu qadiran/adanya Allah berkuasa). Lawannya yaitu sifat "كونه عاجزا" (kaunuhu ajizan/ adanya Allah yang lemah). Adapun dalil atas adanya Allah Ta’ala itu dzat yang maha berkuasa yaitu dalilnya sifat al-Qudrat.

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ مُرِيْدًا. وَ ضِدُّهُ كَوْنُهُ كَارِهًا. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ دَلِيْلُ الْإِرَادَةِ

    Dan wajib dalam haknya Allah Ta’ala, sifat "كونه مريدا" (kaunuhu muridan/adanya Allah yang berkehendak). Lawannya yaitu sifat "كونه كارها" (kaunuhu karihan/adanya Allah yang terpaksa). Adapun dalil atas adanya Allah Ta’ala dzat yang maha berkehendak yaitu dalilnya sifat al-iradat.

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ عَالِمًا. وَ ضِدُّهُ كَوْنُهُ جَاهِلًا. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ دَلِيْلُ الْعِلْمِ.


    Dan wajib dalam haknya Allah Ta’ala, sifat "كونه عالما" (kaunuhu aliman/adanya Allah yang mengetahui). Lawannya yaitu sifat "كونه جاهلا" (kaunuhu jahilan/adanya Allah yang bodoh). Dan dalil atas adanya Allah Ta’ala dzat yang maha mengetahui yaitu dalilnya sifat al-‘Ilmu.

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ حَيًّا. وَ ضِدُّهُ كَوْنُهُ مَيْتًا. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ دَلِيْلُ الْحَيَاةِ.


    Dan wajib dalam haknya Allah Ta’ala, sifat "كونه حيا" (kaunuhu hayyan/adanya Allah yang hidup). Lawannya yaitu sifat "كونه ميتا" (kaunuhu mayyitan/adanya Allah yang mati). Adapun dalil atas adanya Allah Ta’ala dzat yang maha hidup yaitu dalilnya sifat al-Hayyat.

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ سَمِيْعًا بَصِيْرًا. وَ ضِدُّهُ كَوْنُهُ أَصَمَّ وَ كَوُنُهُ أَعْمَى. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ دَلِيْلُ السَّمْعِ وَ دَلِيْلُ الْبَصَرِ.


    Dan wajib dalam haknya Allah Ta’ala, sifat "كونه سميعا" (kaunuhu samii’an/adanya Allah yang mendengar) dan sifat "كونه بصيرا" (kaunuhu bashiiran/adanya Allah yang melihat). Lawannya yaitu sifat "كونه أصم" (kaunuhu ashoma/adanya Allah yang tuli) dan sifat "كونه اعمى" (kaunuhu a’ma/adanya Allah yang buta). Adapun dalil atas adanya Allah Ta’ala dzat yang maha mendengar dan melihat yaitu dalilnya sifat as-Sama’ dan dalilnya sifat al-Bashor.

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ مُتَكَلِّمًا. وَ ضِدُّهُ كَوْنُهُ أَبْكَمَ. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ دَلِيْلُ الْكَلَامِ.


    Dan wajib dalam haknya Allah Ta’ala, sifat "كونه متكلما" (kaunuhu mutakalliman/adanya Allah yang berfirman). Lawannya yaitu sifat "كونه ابكم" (kaunuhu abkama/adanya Allah yang bisu). Adapun dalil atas adanya Allah Ta’ala dzat yang maha berrfirman yaitu, dalilnya sifat al-Kalam.

وَ الْجَائِزُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى فِعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ أَوْ تَرْكُهُ. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ وَجَبَ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى فِعْلُ شَيْءٍ أَوْ تَرْكُهُ لَصَارَ الْجَائِزُ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحِيْلًا وَ هُوَ مُحَالٌ


    Dan sifat "الجائز" (ja’iz/boleh) bagi Allah Ta’ala adalah, melakukan segala sesuatu yang mungkin atau membiarkannya. Adapun dalil atas ini yaitu, jikalau melakukan atau meninggalkan sesuatu tersebut adalah perkara yang wajib atas Allah SWT, maka perkara yang ja’iz tersebut juga bisa menjadi wajib atau mustahil. Dan hal itu tidak bisa diterima akal (mustahil).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ الصِّدْقُ. وَ ضِدُّهُ الْكِذْبُ. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُمْ لَوْ كَذَبُوْا لَكَانَ خَبَرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى كَاذِبًا وَ هُوَ مُحَالٌ.


    Dan wajib dalam haknya para Rasul ~alaihissholatu wassalam~ sifat "الصديق" (as-Shiddiq/ benar). Dan lawannya yaitu sifat "الكذب" (al-kidzb/ bohong). Adapun dalil atas ini yaitu sesungguhnya jikalau mereka para Rasul berbohong niscaya adanya berita dari Allah Ta’ala itu bohong. Dan hal itu tidak bisa diterima akal (mustahil).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ الْأَمَانَةُ. وَ ضِدُّهَا الْخِيَانَةُ. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُمْ لَوْ خَانُوْا بِفِعْلٍ مُحَرَّمٍ أَوْ مَكْرُوْهٍ لَكُنَّا مَأْمُوْرِيْنَ بِمِثْلِ ذلِكَ وَ لَا يَصِحُّ أَنْ نُؤْمَرَ بِمُحَرَّمٍ أَوْ مَكْرُوْهٍ.

    Dan wajib dalam haknya para Rasul ~alaihissholatu wassalam~ sifat "الأمانة" (al-Amanah/ terpercaya). Dan lawannya yaitu sifat "الخيانة" (al-Khiayanat/ berhianat). Adapun dalil atas ini yaitu sesungguhnya jikalau mereka para Rasul berkhianat dengan berbuat yang diharamkan atau dibenci, niscaya kita semua diperintah serupa. Dan kita diperintah terhadap yang diharamkan atau dimakruhkan itu tidak benar.

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ تَبْلِيْغُ مَا أُمِرُوْا بِتَبْلِيْغِهِ لِلْخَلْقِ. وَ ضِدُّهُ كِتْمَانُ ذلِكَ. الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُمْ لَوْ كَتَمُوْا شَيْئًا مِمَّا أُمِرُوْا بِتَبْلِيْغِهِ لَكُنَّا مَأْمُوْرِيْنَ بِكِتْمَانِ الْعِلْمِ وَ لَا يَصِحُّ أَنْ نُؤْمَرَ بِهِ، لِأَنَّ كَاتِمَ الْعِلْمِ مَلْعُوْنٌ.


    Dan wajib dalam haknya para Rasul ~alaihissholatu wassalam~  sifat "تبليغ" (tabligh/ menyampaikan perkara yang telah diperintahkan oleh Allah SWT terhadap mereka untuk menyampaikannya kepada para makhluk/umat). Dan lawannya yaitu sifat "كتمان" (kitman/ menutup-nutupi/menyembunyikan). Adapun dalil atas ini yaitu, sesungguhnya jikalau mereka para Rasul menutup-nutupi/menyembunyikan suatu perkara yang telah diperintahkan terhadap mereka untuk disampaikan, niscaya kita diperintah untuk menyembunyikan itu. Dan itu tidak benar jika kita diperintah untuk itu. Karena sesungguhnya orang yang menutup-nutupi pengetahuan itu dilaknat.

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ الْفَطَانَةُ. وَ ضِدُّهَا الْبَلَادَةُ. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوِ انْتَفَتْ عَنْهُمُ الْفَطَانَةُ لَمَّا قَدَرُوْا أَنْ يُقِيْمُوْا حُجَّةً عَلَى الْخَصْمِ وَ هُوَ مُحَالٌ َلِأَنَّ الْقُرْآنَ دَلَّ فِيْ مَوَاضِعَ كَثِيْرَةٍ عَلَى إِقَامَتِهِمُ الْحُجَّةَ عَلَى الْخَصْمِ.


    Dan wajib dalam haknya para Rasul ~alaihissholatu wassalam~  sifat "الفطانة" (al-fathonah/ cerdas). Dan lawannya yaitu sifat "البلادة" (al-biladah/ bodoh). Adapun dalil atas ini yaitu, sesungguhnya jikalau mereka para Rasul tiada kecerdasan niscaya mereka tidak akan sanggup membuat hujjah terhadap para lawan/musuh. Dan hal itu tidak bisa diterima akal (mustahil). Karena al-Qur’an menunjukan di banyak tempat atas penegakan para Rasul terhadap hujjah kepada para lawan/musuh.

وَ الْجَائِزُ فِيْ حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ الْأَعْرَاضُ الْبَشَرِيَّةُ الَّتِيْ لَا تُؤَدِّيْ إِلَى نَقْصٍ فِيْ مَرَاتِبِهِمُ الْعَلِيَّةِ كَالْمَرَضِ وَ نَحْوِهِ. وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ مُشَاهَدَتُهَا بِهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ

    Dan sifat jaiz/boleh pada para Rasul ~alaihissholatu wassalam~ sifat "الأعراض البشرية" (al-a’rod al-Basyariyah/manusiawi) yang tidak menimbulkan kekurangan pada martabat mereka yang luhur seperti sakit dan semisalnya. Adapun dalil bahwa para rasul memiliki sifat Manusiawi (al-A‘rādh-ul-Basyariyyah) adalah kenyataan yang dapat disaksikan pada diri para rasul ~alaihissholatu wassalam~.

PENUTUP

يَجِبُ عَلَى الشَّخْصِ أَنْ يَعْرِفَ نَسَبَهُ ﷺ مِنْ جِهَةِ أَبِيْهِ وَ مِنْ جِهَةِ أُمِّهِ

    Wajib bagi semua orang untuk mengetahui nasab/silsilah Nabi SAW, baik dari jalur ayah, maupun dari pihak ibu.

فَأَمَّا نَسَبُهُ ﷺ مِنْ جِهَةِ أَبِيْهِ فَهُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيِّ ابْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضَرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسِ بْنِ مُضَرِ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ ابْنِ عَدْنَانَ وَ لَيْسَ فِيْمَا بَعْدَهُ إِلَى آدَمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ طَرِيْقٌ صَحِيْحٌ فِيْمَا يُنْقَلُ

    Adapun silsilah/nasab Nabi SAW, dari jalur ayah beliau adalah. Baginda kita Muḥammad SAW, adalah putranya ‘Abdullāh putranya ‘Abdul Muththalib putranya Hasyim putranya ‘Abdu Manaf putranya Qushay putranya Kilab putranya Murrah putranya Ka‘b putranya Lu’ay putranya Ghālib putranya Fihr putranya Mālik putranya Nadhar putranya Kinānah purtranya Khuzaimah putranya Mudrikah putranya Ilyās putranya Mudhar putranya Nizār putranya Ma‘ad putranya ‘Adnān. Dan - sampai Sayyid ‘Adnān ini - tidak ada silsilah yang Shaḥīḥ hingga Nabi ‘Ādam as.

وَ أَمَّا نَسَبُهُ  ﷺمِنْ جِهَةِ أُمِّهِ فَهُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ بْنِ زُهْرَةَ بْنِ كِلَابٍ، فَتَجْتَمِعُ مَعَهُ ﷺ فِيْ جَدِّهِ كِلَابٌ

    Sedangkan silsilah/nasab Nabi SAW, dari jalur ibunya adalah, Baginda kita Muḥammad SAW, adalah putra Āminah putrinya Wahb putranya ‘Abdu Manāf putranya Zuhrah putranya Kilāb. Maka bertemulah Sayyidah Āminah beserta Nabi SAW, pada kakeknya, yakni Sayyid Kilāb.

وَ مِمَّا يَجِبُ أَيْضًا أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ لَهُ حَوْضًا

    Dan dari sebagian perkara yang wajib untuk diketahui adalah sesungguhnya Nabi Muḥammad SAW, memiliki Ḥaudh (danau di surga).

وَ أَنَّهُ ﷺ يَشْفَعُ فِيْ فَصْلِ الْقَضَاءِ، وَ هذِهِ الشَّفَاعَةُ مُخْتَصَةٌ بِهِ 

    Dan sesungguhnya Nabi Muḥammad SAW, akan memberi syafaat ketika dalam Fashlul Qadhā’ (pemutusan hukum untuk seluruh makhluk), dan Syafa‘at ini hanya khusus di miliki oleh Nabi Muḥammad SAW.

وَ مِمَّا يَجِبُ أَيْضًا أَنْ تَعْرِفَ الرُّسُلَ الْمَذْكُوْرِيْنَ فِي الْقُرْآنِ تَفْصِيْلًا وَ أَمَّا غَيْرُهُمْ فَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَعْرِفُهُمْ إِجْمَالًا.

    Dan juga wajib hukumnya, yakni mengetahui nama - nama para rasul yang sudah disebutkan didalam al-Qur’ān secara rinci, adapun selain para rasul yang disebutkan dalam al-Qur’ān, maka wajib mengetahuinya secara global saja.

وَ قَدْ نَظَّمَ بَعْضُهُمُ الْأَنْبِيَاءَ الَّتِيْ تَجِبُ مَعْرِفَتُهُمْ تَفْصِيْلًا فَقَالَ

    Dan sebagian ulama telah menadzamkan nama - nama para Nabi yang wajib diketahui secara rinci, mereka berkata:

خَتْمٌ عَلَى كُلِّ ذِي التَّكْلِيْفِ مَعْرِفَةٌ # بِأَنْبِيَاءَ عَلَى التَّفْصِيْلِ قَدْ عُلِمُوْا

فِيْ تِلْكَ حُجَّتُنَا مِنْهُمْ ثَمَانِيَةٌ # مِنْ بَعْدِ عَشْرٍ وَ يَبْقَى سَبْعَةٌ وَ هُمُ

إِدْرِيْسُ هُوْدٌ شُعَيْبٌ صَالِحٌ وَ كَذَا # ذُو الْكِفْلِ آدَمُ بِالْمُخْتَارِ قَدْ خُتِمُوْا

    Wajib bagi setiap orang Mukallaf mengetahui nama - nama para Nabi secara terperinci yang telah diketahui. Di situlah hujjah kita. 

    Sebagian dari mereka ada delapan, Setelah sepuluh (8+10=18) dan sisanya ada tujuh yakni.

    Nabi Idris, nabi Hud, nabi Syu‘aib, nabi Shaliḥ, begitu juga, Nabi Dzulkifli, nabi Adam, dan dengan Nabi yang terpilih (Nabi Muḥammad) yang menjadi akhir dari para nabi.

وَ مِمَّا يَجِبُ اعْتِقَادُهُ أَيْضًا أَنَّ قَرْنَهُ أَفْضَلُ الْقُرُوْنِ ثُمَّ الْقَرْنُ الَّذِيْ بَعْدَهُ ثُمَّ الْقَرْنُ الَّذِيْ بَعْدَهُ.

    Dan sesuatu yang wajib diyakini lagi adalah. Meyakini bahwa sesungguhnya masa/era Rasulullah SAW adalah masa/era yang terbaik, kemudian masa sesudahnya (sahabat nabi) kemudian masa sesudahnya lagi (tabi'in).

وَ يَنْبَغِيْ لِلشَّخْصِ أَنْ يَعْرَفَ أَوْلَادَهُ  وَ هُمْ سَبْعَةٌ عَلَى الصَّحِيْحِ سَيِّدُنَا الْقَاسِمُ وَ سَيِّدَتُنَا زَيْنَبٌ وَ سَيِّدَتُنَا رُقَيَّةٌ وَ سَيِّدَتُنَا فَاطِمَةٌ وَ سَيِّدَتُنَا أُمُّ كُلْثُوْمٍ وَ سَيِّدُنَا عَبْدُ اللهِ وَ هُوَ الْمُلَقَّبُ بِالطَّيِّبِ وَ الطَّاهِرِ وَ سَيِّدُنَا إِبْرَاهِيْمُ وَ كُلُّهُمْ مِنْ سَيِّدَتِنَا خَدِيْجَةَ الْكُبْرَى إِلَّا إِبْرَاهِيْمَ فَمِنْ مَارِيَّةَ الْقِبْطِيَّةِ.

    Dan hendaknya bagi setia orang agar mengetahui putra-putri Nabi Muḥammad SAW. yang bedasarkan riwayat yang shohih jumlahnya ada 7. Sayyid Qasim, Sayyidah Zainab, Sayyidah Ruqayyah, Sayyidah Fathimah, Sayyidah Ummi Kultsum, Sayyid ‘Abdullāh yang dijuluki At -Thayyib dan At-Thahir, Sayyid Ibrahim. Dan mereka semuanya terlahir dari Ibu Sayyidah Khadijah Al-Kubra kecuali Sayyid Ibrahim dari Ibu Mariyyah Al-Qibthiyyah.

وَ هذَا آخِرُ مَا يَسَّرَهُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَ كَرَمِهِ

    Ini adalah akhir dari sesuatu yang telah dimudahkan oleh Allah SWT, dari sifat kedermawanan-Nya dan kemuliaan-Nya.

وَ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ

    Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam. Shalawat kepada Baginda kita Muḥammad SAW dan juga kepada para keluarganya dan para Sahabat - sahabatnya.


Satu dua kata dari penulis.

    Alhamdulillah dengan segala kenikmatan yang telah di berikan oleh Allah SWT, sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda agung Nabi Muhammad SAW, dan dengan banyaknya kekurangan yang di miliki oleh Al faqir. Alhamdulillah Al - faqir telah menyelesaikan penerjemahan kitab risalah ini atas permintaan dari sebagian ashdiqo' (teman dekat).

    Semoga Al - Faqir, dan para teman - teman dekat senantiasa di beri kesehatan oleh Allah SWT, dan senantiasa selalu di kumpulkan dengan orang - orang baik, dan sholih. Fi zumrotis shiddiqin was syuhada' was sholihin. AMIN.

_________________

Di terjemahkan oleh :

M. Masbuhin

Sabtu, 19/Maret/2022

2 komentar: